Back for Autumn - 2

Dingin hembusan angin menyadarkanku dari kenanganku dengan Lee di losmen itu. Saat itu dia dua kali aku puaskan sebelum akhirnya kubiarkan dia menikmati cairanku. Kuhapus airmata yang hendak menetes dari sudut mataku. Takut nanti temanku ada yang melihat. Saat ini aku duduk di kursi taman di halaman pabrik tempatku bekerja yang baru. Sebuah pabrik kecil tanpa asrama. Aku tinggal sendiri disebuah kamar di lantai bagian atas pabrik. Terdengar suara dering alarm, tanda waktu istirahat sudah habis. Setengah berlari aku menuju ke tempatku kerja kembali.

*****

hari hari dalam pencarian
kau semakin jauh tertinggal
bayanganmu bergejolak
dalam pandangan yang bergelora
cinta kita telah usang berdebu
malam meratapi lembaran lara
bulan jatuh pada telaga hati
malam semakin menghitam
pungguk tak sendiri merindu

*****

"Jadi sekarang kamu kerja di Kimpo lagi?" Tanya Jin Yong yang dari tadi duduk di sebelahku.
Aku cuma mengangguk sambil menghirup kopi dari cangkirku. Kami baru saja ketemu dijalan. Dan dia mengajakku minum kopi di Cafe ini.
"Kamu masih tinggal di asrama itu?" Tanyaku.
"Tidak. Aku sekarang tinggal di Sin An." Jawabnya sambil menghembuskan asap rokoknya.
Kuambil sebatang rokok dari bungkusan Jin Yong. Kebetulan rokokku sudah habis.
"Kamu mau pergi kemana hari ini?" Sambil bertanya, dia menyodorkan lighter kepadaku.
"Tidak kemana-mana. Aku baru dari JD." JD adalah supermarket dimana pabrikku dulu berada. Aku selalu pergi kesana. Duduk di bawah pohon maple itu sambil mengenang Lee.
"Main ke tempatku yuk." Tawarnya. Aku lihat seperti ada tanduk di kepalanya.
"Ayolah." Ajaknya lagi saat melihat aku ragu-ragu.
Akhirnya kamipun segera meninggalkan cafe itu dan pergi ke apartement Sin An tempat Jin Yong tinggal.

"Bersih juga tempat kamu ya." Ucapku begitu melihat keadaan tempat tinggalnya.
Kulepaskan jaket dan sepatuku dan kujatuhkan diriku di sofa. Jin Yong datang menghampiriku. Sambil memandang wajahku dilepaskannya mantel hitamnya. Kalau musim gugur dan musim dingin, orang-orang suka memakai pakaian warna gelap. Pernah aku pergi keluar di musim dingin dengan memakai jaket putih yang kubawa dari indonesia, dan ternyata aku adalah satu-satunya orang yang memakai warna putih di jalan itu.

Jin Yong Lalu duduk di sampingku yang sedang berbaring di sofa. Dari suara nafasnya aku tahu dia sedang bernafsu. Aku berlagak lugu dan kubalas pandangannya dengan tatapan polos. Aku tersenyum saat dia meletakkan tangannya di pahaku. Tanpa kata-kata dia mulai memijat pahaku naik turun. Makin lama makin keatas sambil di usap-usap. Aku pun mulai terangsang. Ketika kupejamkan mataku, dia menubruk tubuhku dan menyerang pipiku dengan ciumannya.
"Eh, Jin Yong. Kamu kenapa?" Aku tetap berusaha tenang.
Jin Yong tidak menggubris ucapanku. Akhirnya kubiarkan dia menggumuliku. Dia menindih tubuhku. Penisnya yang sudah tegang menekan kuat paha kiriku sehingga Adik kecilku pun terbangun. Saat dia mulai menciumi leherku, kupeluk erat tubuhnya dan ku usap-usap punggungnya. Kuangkat pantatku keatas bersamaan dengan tekanan tanganku ke punggungnya supaya penisku makin terasa menekan perutnya. Uh hangatnya tubuh Jin Yong.

Terasa kehangatan menyebar saat kami berpelukan erat. Kesepianku selama ini seakan terobati oleh cumbuannya. Aku langsung membayangkan, bahwa saat ini aku sedang dicumbu Lee. Meski cara Lee mencumbu tidak mahir seperti Jin Yong. Kali ini aku menikmati setiap sentuhan dan ciuman yang Jin Yong berikan. Aku betul-betul kehausan kasih sayang. Sejak kepergian Lee, aku tidak pernah merasa tenang. Selalu dibebani kerinduan dan kesedihan. Aku pejamkan mataku dan kubiarkan Jin Yong menelanjangiku. Tetapi dia sendiri masih tetap mengenakan celananya.

Seluruh tubuhku di jamahnya dengan lembut dan setiap sentuhannya menimbulkan kenikmatan yang membuatku tidak dapat menahan rintihan. Kelihatannya dia sudah berpengalaman. Dibuatnya aku menggeliat dalam pelukannya. Lidahnya menggelitik sekujur leherku dan belakang telingaku. Aku dibuatnya menggeliat.
"Euhh." Tanpa sadar aku merintih. Tanganku meremas-remas rambutnya.
Deru nafasnya menghangati leherku dan pelukannya menghangati tubuhku. Aku tidak dapat lagi mengontrol gejolak gairahku. Aku tarik muka Jin Yong kehadapanku dan aku lumat bibirnya dengan penuh nafsu. Sejenak dia kelabakan menahan seranganku yang seperti orang kelaparan yang diberi roti.

Tetapi tak lama kemudian dia berhasil membuatku terlena dengan permainan lidahnya di mulutku. Mataku sampai terpejam-pejam nikmat dibuatnya. Gigitannya pada bibir bawahku, sedotan dan jilatan lidahnya di rongga mulutku membuat darahku mengalir makin cepat. Lepas dari kulumannya, kuarahkan bibirku untuk melumat lehernya. kuhisap kuat sampai Jin Yong meringis sakit. Kujilati dan kulumat-lumat batang lehernya yang putih bersih itu. Tangan Jin Yong menghentikan aksi lumatanku dan kembali bibirnya mengulum bibirku.

Aku terengah-engah dalam kenikmatan saat lidahnya menjelajahi rongga mulutku. Seperti bayi menyusu, aku sambut setiap tetesan liur yang tercipta oleh pagutan kami berdua. Nafasku memburu, nafsuku tak tertahan lagi. Dalam diriku ada yang meronta hendak dilepaskan. Aku tidak tahan lagi, penisku semakin kuat berdenyut.

*****

telah kutitipkan rinduku
di setiap alunan angin kota itu
pada gemersik hembusannya
terdengar degupan jantungku
pun pada dedaun maple merah itu
ku ikatkan setiap bisik janjiku
biar musim terus berganti
membawa pergi sisa asa di hati
namun di hati kau tak akan berganti
telah kutinggalkan cinta di kota itu
terpuruk sendiri bersama sepi
setiap musim gugur menjelang tiba
hati berharap kembali bersua.

*****

Ku dorong badan Jin Yong hingga ciumannya terlepas. Kupandang dia dengan nafas ngos-ngosan. Mataku terbuka sayu penuh keinginan.
"Jin Yong." Tanpa malu lagi kusebut namanya dengan suaraku yang parau karena birahi.
Tanpa disuruh, Jin Yong mulai melumati permukaan dadaku. Aku mengigil ketika kedua puting dadaku di hisapnya bergantian. Rintihan bercampur desahan tak hemti-hentinya keluar dari mulutku. Seperti ular berjalan, lidah Jin Yong seolah menari-nari sambil bergerak turun. Perut dan pinggangku disapu dan digelitiki dengan lidah nakalnya.

Sambil mengigit bibir, kucoba menahan rasa geli dan nikmat. Aku menahan nafas saat kurasakan hembusan panas nafasnya di batang penisku yang menjulang keatas. Dengan lembut jemari Jin Yong mengurut batang penisku sambil sesekali mengocoknya naik turun. Dengan gerakan memutar dia memberi kehangatan yang menyenangkan pada buah zakarku.
"Ouhh, ahh." Tubuhku menggeliat kecil ketika dia mengulum kulit di bawah kepala penisku.
Agak lama dia bermain disitu sampai kurasa ada precum yang mengalir. Setelah itu dia mulai menjilati seluruh permukaan dengan caranya yang lihai hingga aku tersengal-sengal karena nikmat. Perlahan kurasakan kehangatan menyelimuti dan membenamkan penisku. Begitu nikmat. Keluar-masuk sehingga gesekannya menimbulkan sensasi yang membuat mulutku ternganga. Ketika Jin Yong membenamkan penisku sampai habis dalam mulutnya, aku seperti dibawa ke awang-awang. Dan ketika dia keluarkan sambil di hisapnya kepala penisku, aku terasa seperti nyawaku ikut tertarik keluar.

Setiap gerakannya yang semakin lama makin dipercepat, selalu kuikuti dengan lenguhan dan gelinjanganku. Tangannya ikut mengurut pangkal penisku dan menarik-narik bulunya dengan lembut. Aku reflek membuka lebar kedua pahaku dan ikut menaik-turunkan pantatku seiring dengan gerakan keluar masuk yang dilakukannya. Kupejamkan mata menikmati setiap gesekan dan sedotan Jin Yong, sampai aku tidak sanggup lagi menahan gejolak kenikmatan yang mendesak keluar.
"Ough, ouh, Jin Yong." Aku memekik dengan nafas memburu.
Semakin liar kunaik-turunkan pantatku sambil badanku mengejang. Tanganku menekan kuat kepala Jin Yong yang tampaknya sudah siap menerima semburanku.

"Aach, aach." Aku berkelojot beberapa kali saat cairan kelelakianku muncrat bersamaan rasa nikmat yang sesaat membuat jiwaku seolah lepas dari tubuhku.
Dengan lahap Jin Yong menyambut spermaku dan menelannya dengan suara berkecap. Aku terbaring lemas, meresapi sisa kenikmatan barusan. Jin Yong beringsut maju dan sambil menindihku, wajah kami saling berhadapan. Dia kembali menciumiku dengan mesra sembari membelai rambutku. Rupanya dia ingin juga dipuaskan. Dia mulai merangsangku kembali, tetapi nafsuku sudah down dan tidak ada keinginan lagi untuk meneruskan permainan.

Aku memalingkan muka untuk menghindari ciumannya. Sambil menggeliat dan meronta kucoba melepaskan diri dari pelukannya.
"Ayolah, Hui. Aku juga ingin." Rayunya padaku dengan muka memelas.
Tetapi dengan muka tidak kalah memelas aku berusaha menolak.
"Aku capek. Lain kali saja." Jawabku sambil kupasang tampang mau menangis.
Akhirnya setelah bosan membujukku, dia lalu beranjak pergi menuju kamar mandi. Tak sampai sepuluh menit dia keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Mungkin dia memadamkan nafsunya yang belum tersalurkan dengan mandi. Setelah dia masuk ke kamar tidurnya, aku pun segera mandi dengan air hangat.

Selesai mandi badan dan pikiranku terasa segar kembali. Ku buka pintu kamar Jin Yong. Dia sedang tidur-tiduran di ranjangnya sambil mendengarkan walkman. Tiba-tiba aku merasa kasihan kepadanya. Dia menatapku yang berdiri mematung di depan pintu.
"Kesinilah Hui." Ucapnya sambil bergeser memberi tempat buatku.
Aku menghampirinya dan berbaring di sampingnya. Dia lalu melepaskan satu head phone dari telinganya dan meletakannya di telingaku. Rupanya lagu instrument klasik. Tinggi juga rupanya selera dia terhadap musik. Aku bergeser lebih dekat lagi padanya. Tnganku kurangkulkan ketubuhnya. Kehangatan mulai menjalar di tubuhku.

Jin Yong mengusap rambutku dan menyisirinya dengan tangannya. Aku merasa nyaman dan disayangi. Kusandarkan kepalaku di bahunya dan kuketatkan pelukanku. Kupejamkan mata saat dia mencium rambutku. Aku jadi seperti anak kecil di pelukannya. Kurasakan kasih sayang seorang kakak dan ayah yang tidak pernah aku rasakan. Selama ini aku selalu bersikap dewasa. Tetapi terhadap Jin Yong yang memang lebih tua dariku, aku merasa terlindungi.
"Hui, kamu punya kakak tidak?" Katanya sambil memainkan rambutku. Aku menggeleng sambil tetap memejamkan mata.
"Aku anak bungsu. Tidak punya Adik. Kamu mau tidak jadi adikku?" Tanyanya lagi.
"Tidak mau." Kali ini aku menjawab. Pelukanku kueratkan lagi.
"Umur kita kan sama. Kita adalah teman." Sambungku lagi.
Dia bangkit dari tidurnya dan duduk di sampingku.
"Kamu kan tidak punya kakak, dan aku tidak punya Adik. Mengapa kamu tidak mau jadi adikku?" Ucapnya sedikit kesal.
Aku bangkit dan raih tubuhnya sehingga berbaring lagi dan ku dekap kuat-kuat supaya jangan terlepas. Aku masih belum puas merasakan kehangatan dan rasa nyaman dalam pelukannya tadi. Tidak kuhiraukan lagi celotehnya. Akhirnya dia berhenti mengomel dan kembali membalas pelukanku yang mulai mengantuk. Akupun akhirnya tertidur dalam pelukannya.

*****

Autumn 97

Apalagi yang dapat aku syukuri saat ini selain dapat meneteskan airmata di kota ini. Seperti saat ini.

Di bawah pohon maple ini kembali kubiarkan angan membuka lembar demi lembar kenangan yang telah usang. Dengan mata menghangat, kupandangi daun daun merah yang telah mengering di rantingnya. Ketika desau angin menyapa, daun-daun itu luruh, melayang dan jatuh di pangkuanku. Saat memandangi daun-daun yang gugur itu, aku bagaikan melihat sebuah cinta yng telah melewati berbagai ujian dan hempasan yang membuatnya goyah dan sampai pada akhirnya, cinta itu tidak dapat lagi dipertahankan. Kuteguk kembali soju yang sudah tinggal separuh botol. Terasa pahit. Namun tidak sepahit kisah racun cinta yang sedang menyiksaku.

Udara semakin terasa dingin. Namun aku masih tidak bergeming. Setiap senja selalu kusempatkan datang ke tempat ini. Untuk mendengarkan bisik angin yang seolah memperdengarkan kembali gelak tawa yang pernah ada di antara aku dan Lee. Kupejamkan mataku untuk mengenang kembali keindahan musim gugur tahun lalu. Ada yang mengalir dari kedua sudut mataku. Mengalir menghangat di pipiku yng kemerahan karena udara yang dingin.

Tiba-tiba angin lembut membelai wajahku, membawa keharuman masa lalu. Tercium kembali harum tubuh Lee dalam dekapanku. Keharuman yang pernah melelapkanku. Semakin deras airmata mengaliri wajahku. Dalam dingin yang mencekam kembali terasa kehangatan yang aku rindukan. Hampir tersedu aku menahan gelombang kerinduan. Terbayang lagi kemesraan kami di losmen kota Yong Dung Po.

Bersambung . . . . .