Pondok jejaka - 1

Usaha keras Yuda selama ini akhirnya membuahkan hasil juga. Dengan wajah sumringah ia menunjukkan namanya yang mejeng diantara nama-nama lain yang dinyatakan lulus SPMB pada kedua orang tuanya. Di Fakultas Teknik Elektro salah satu universitas negeri favorit di Depok.

"Yuda lulus Ma, Pa," katanya pada kedua orang tuanya.

"Anak Mama memang pinter deh," sahut sang Mama sambil memberikan cium sayang di pipi anak bungsu kesayangannya itu.

"Papa tekor nih Ma," kata sang Papa.

"Kenapa Pa?" tanya sang Mama.

"Papa kan janji akan membelikan sepeda motor baru buat Yuda kalau lulus SPMB Ma," jawab sang Papa.

Yuda senyum-senyum kegirangan mendengar kata-kata sang Papa. Sepeda motor baru yang diidamkannya selama ini menggantikan sepeda motor lamanya akhirnya jadi juga dihadiahkan oleh sang Papa. Dengan kondisi ekonomi keluarga mereka yang jauh diatas rata-rata, Papa Yuda adalah salah seorang pengusaha perantauan yang sukses di Makassar, sebenarnya bisa saja sang Papa membelikan sebuah mobil untuk Yuda. Namun cowok ganteng satu ini memang belum pernah punya keinginan untuk memiliki mobil sendiri.

Saat ditanyakan oleh sang Mama apa alasannya tidak mau memiliki mobil sendiri dengan enteng Yuda menjawab,

"Lebih enak naik sepeda motor Ma. Kalau membonceng cewek, lebih mesra."

Sang Mama hanya bisa mencubit sayang pipi anak bungsunya ini. Sambil ngeledek,

"Anak bungsu Mama ini ternyata genit ya. Kecil-kecil sudah playboy."

Yuda hanya nyengir lucu mendengar ledekan Mamanya itu. Yuda memang anak yang unik. Diantara dua saudaranya yang lain dia memang lebih sederhana dalam penampilan. Mas Yudi dan Mbak Yenny, masing-masing kakak pertama dan keduanya, dua-duanya mengendarai mobil dalam keseharian mereka. Sejak masih tinggal di Makassar dulu dan juga saat ini, dimana keduanya sedang menimba ilmu, kuliah di Pulau Jawa. Mas Yudi kuliah di PTN Teknik yang ada di Bandung, sedangkan Mbak Yenny kuliah di PTN yang ada di Yogyakarta, tak jauh dari rumah kakek dan nenek keluarga Yuda.

Meskipun berasal dari keluarga mampu, Yuda dan kakak-kakaknya memang serius dalam hal pelajaran. Karena itu wajar saja mereka semua dapat lulus di PTN favorit yang ada di Pulau Jawa.

"Kapan dong Pa, Yuda dibelikan sepeda motor barunya?" tanya Yuda menagih janji sang Papa.

"Nanti aja di Jakarta ya.. Yud. Supaya enggak repot-repot membawanya dari sini."

"Oke deh pa. Makasih ya Papa dan Mama tersayang," jawab Yuda sambil mencium pipi kedua orang tuanya bergantian.

Setelah itu cowok ganteng bertubuh tinggi langsing atletis itu siap-siap ngacir meninggalkan kedua orang tuanya yang masih sibuk membolak-balik surat kabar berisi pengumuman SPMB itu.

"Mau kemana sayang?" tanya sang Mama.

"Ke rumah Reny Ma. Mau pamit sekaligus mutusin dia. Soalnya repot kan pacaran jarak jauh. Lagian di Jakarta banyak cewek-cewek manis Ma, kasihan kalau Yuda cuekin mereka. kalau disini kan Reny masih bisa ketemu cowok lain di sekolah, dia kan baru naik kelas 2," jawab Yuda enteng.

Mama dan Papanya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari anak bungsunya yang ternyata berbakat playboy itu. Kedua orang tua Yuda memang tak terlalu mempermasalahkan "bakat" sang anak yang suka gonta-ganti pacar itu. Karena meskipun Yuda begitu, dia tak pernah melakukan hal-hal yang dapat merusak masa depannya. Buktinya sekolahnya tetap lancar dan cewek-cewek yang pernah dipacarinya pun masih tetap berhubungan baik dengannya. Malah masih sering berkunjung ke rumah Yuda yang terletak di salah satu kompleks perumahan mewah di Kota Makassar.

Reny yang tadi disebut Yuda adalah pacarnya yang terakhir. Teman satu sekolahnya yang waktu dipacarinya masih duduk di kelas 1. Yuda memang salah satu idola cewek-cewek di sekolahnya. Gimana enggak jadi idola. Anaknya pinter di kelas, penampilan fisik oke, olah raga jago, kaya tapi sederhana dan supel dalam bergaul. Oleh karena itu setiap orang yang mengenal Yuda sangat senang bergaul dengannya. Prestasinya juga membanggakan. Yuda pernah menjadi utusan propinsinya untuk menjadi anggota Paskribaka di Istana Merdeka. Selain itu, saat ia menjadi kapten kesebelasan sepak bola sekolahnya Yuda menghantarkan kesebelasannya menjadi juara pertama dalam Kompetisi Sepak Bola antar pelajar se-propinsi. Cowok yang sempurna? Kayaknya iya. Bukankah itu yang anda sukai saat membaca cerita-cerita seperti ini kan? Hehe.

Yuda disambut oleh Mas Yudi di Bandara Internasional Sukarno-Hatta Cengkareng. Sesuai dengan perintah kedua orang tuanya melalui telepon, kakak pertamanya itu ditugaskan untuk membantu Yuda dalam mengurus proses penerimaan mahasiswa baru di kampusnya. Kebetulan Yudi berada di Bandung, maka menurut kedua orang tua mereka cukuplah kakak tertua Yuda itu yang membantu, Mama dan Papa Yuda tak perlu harus ke Jakarta untuk mengurusi keperluan Yuda.

"Bawa oleh-oleh apa Yud buat gue?" sambut Mas Yudi sambil menjawil telinga adik bungsunya itu. Wajahnya tersenyum lucu.

"Dasar deh Mas Yudi, bukannya nanya kabar Mama sama Papa, malah nanya oleh-oleh," jawab Yuda pura-pura cemberut.

Sumpah, meski cemberut wajah Yuda tetap aja ganteng lho. Selanjutnya kedua kakak beradik yang ganteng-ganteng itu berpelukan hangat melepas rindu. Setelah acara melepas rindu usai, Mas Yudi mengajak Yuda untuk meninggalkan bandara.

"Kita istirahat dulu hari ini, besok berangkat ke Depok cari kost buat kamu. Setelah itu mendaftar ulang ke kampus jelek kamu itu," kata Mas Yuda.

"Enak saja. Kampus Mas Yudi yang jelek. Wek," jawab Yuda sambil meleltkan lidahnya.

Sembarangan aja Mas Yudi ini bilang kampus Yuda jelek. Itu kan kampus paling favorit se-Indonesia. Dengan mengendarai mobil sedan milik Mas Yudi, kedua kakak beradik itu melaju di jalan raya Jakarta menuju hotel di kawasan Senayan untuk beristirahat.

Fakultas Teknik Elektro sudah ramai saat Yuda dan Mas Yudi tiba. Setelah memarkirkan mobilnya, Mas Yudi mengajak Yuda melihat Papan pengumuman yang berisi tata cara pendaftaran ulang bagi mahasiswa baru. Papan pengumuman itu sudah ramai di rubungi oleh mahasiswa baru. Untunglah kedua kakak beradik itu memiliki ukuran tinggi badan diatas rata-rata, hampir 180 cm, sehingga mereka tak perlu kerepotan untuk melihat pengumuman.

"Oke deh. Kamu kan sudah tahu apa yang harus dibawa untuk daftar ulang. Sekarang kita cari kos dulu buat kamu. Besok kamu sudah bisa daftar ulang kemari," kata Mas Yudi.

"Oke Mas," jawab Yuda.

"Mas, bingung juga nih cari kos disini. Kita tanya orang-orang aja dulu," ajak Mas Yudi disambut anggukan Yuda.

"Lihat di Papan pengumuman yang deket gedung itu deh Mas. Disana banyak tuh selebaran informasi tempat kos," terang seorang cewek manis saat mereka bertanya-tanya tentang lokasi tempat kos.

"Boleh kenalan kan, nama gue.." kata Yuda pada cewek itu.

Cepat Mas Yudi menarik tangan adik bungsunya yang mulai muncul tabiat playboynya itu. Urusan cari kos belum beres malah sibuk kenalan nih anak. Cewek itu hanya tersenyum malu-malu. Benar saja di Papan pengumuman itu tertempel banyak selebaran informasi kos. Satu per satu pengumuman itu dibaca oleh Mas Yudi. Akhirnya matanya tertumbuk pada sebuah pengumuman yang cukup unik isinya.

"Kalau elo ngerasa ganteng, enggak sombong, en berasal dari keluarga baek-baek, buruan dateng deh ke kos-kosan Pondok Jejaka. Fasilitas lengkap dan dijamin bebas dari narkoba en pergaulan bebas mahasiswa-mahasiswi. Masih tersisa dua kamar kosong. Buruan sebelum kehabisan. Untuk informasi, hubungi Ivan di nomor HP: 081XX," (Nomor handphone sengaja disembunyikan untuk menghindari iklan dan aksi coba-coba yang mungkin anda lakukan dengan menghubungi nomor tersebut. Kalau ternyata nomor yang ditulis beneran punya gay atau biseks enggak masalah. Kalau punya lesbian gimana? Kan elo rugi pulsa. Hehehe).

Mas Yudi segera menghubungi nomor handphone itu.

"Masih sisa satu kamar kosong lagi ya? Hmm.. Satu setengah juta setahun. Mmm belum termasuk bayar tagihan listrik dan telepon? Ada AC ya? Boleh punya televisi dan komputer di kamar? Ada garasi buat kendaraannya ya? Oke deh kita coba lihat ke situ. Alamatnya dimana? Hmm disitu ya. Oke, oke. Kami kesitu ya. Nama saya Yudi. Makasih Van. Klik,"

"Gimana Mas?" tanya Yuda.

"Kayaknya lumayan. Ayo kita lihat ke situ sekarang,"

"Ayo,"

Mencari kost-kostan Pondok Jejaka ternyata tak sulit. Lokasinya tak terlalu jauh dari jalan raya Depok. Kos-kosan itu berupa rumah yang terawat bersih dan rapi. Dipintu rumah terdapat tulisan Pondok Jejaka. Di garasi terdapat dua buah mobil sedan dan satu sepeda motor. Sepertinya kos-kosan itu diperuntukkan untuk kalangan menengah.

"Males ah disini Mas. Kayaknya mewah banget," kata Yuda saat melihat kos-kosan itu.

"Kamu ada-ada aja deh. Entar Papa dan Mama marah ke Mas Yudi, kalau kamu Mas masukin kos-kosan yang kumuh. Ayo turun kita lihat ke dalam."

Tak lama setelah memencet bel, Mas Yudi dan Yuda disambut oleh seorang cowok ganteng bercelana pendek yang membukakan pintu.

"Yudi ya," kata cowok itu yakin.

"Iya. Ivan ya,"

"Yap betul. Silakan masuk Mas," jawabnya.

Ruangan dalam kos itu bersih dan terawat baik. Ruang tengah sepertinya diperuntukkan untuk tempat ngumpul-ngumpul, ada tiga orang cowok, yang juga ganteng-ganteng sedang duduk diatas karpet menonton televisi yang sedang menayangkan acara Buser. Ketiga cowok ganteng itu mengangguk ramah pada Mas Yudi dan Yuda. Sepertinya ini kos anak baik-baik, batin Mas Yudi. Ivan mengajak Mas Yudi dan Yuda duduk di kursi tamu.

"Siapa yang mau kos nih? Dua-duanya?" tanya Ivan.

"Enggak, adik saya ini aja. Yuda namanya. kalau saya kuliah di Bandung,"

"O.. gitu. Mau lihat kamarnya sekarang?"

"Yang punya kos kamu Van?"

"Bukan Mas. Kita berempat yang ngekos disini. Yang punya kos tinggal di Tangerang Mas. Rumah ini dikontrak per tahun. Awalnya kami ada lima orang yang ngontrak bareng-bareng. Karena yang dua sudah lulus, jadi kita perlu dua orang lagi untuk ngisi kamar yang kosong Mas. kalau yang ngontrak lima orang kan biaya kontrakannya per orang jadi enggak terlalu berat Mas,"

"Hmm.. Terus kok kamarnya tinggal satu. Katanya butuh dua," tanya Mas Yudi lagi.

"Kemaren sudah ada satu teman yang baru masuk Mas. Yang pake kaos biru itu," tunjuk Ivan ke arah seorang cowok ganteng berkulit hitam manis. Kayaknya cowok itu berasal dari daerah Indonesia timur.

"O gitu ya. Kita boleh lihat kamarnya?"

"Boleh Mas."

Ivan kemudian menunjukkan kepada Mas Yudi dan Yuda kamar yang masih belum ada penghuninya itu. Didalam kamar itu sudah tersedia tempat tidur spring bed besar. Meja belajar. Dan meja kosong yang bisa digunakan untuk meletakkan televisi. Kamarnya cukup luas. Mas Yudi langsung tertarik. Sedangkan Yuda terlihat ogah-ogahan. Cowok ganteng itu sebenarnya tak mengharapkan tempat kos yang lumayan mewah seperti itu.

Namun untuk menolak Mas Yudi dia merasa tak enak. Dibenaknya terpikir untuk mencari kos lain tahun depan, setelah ia mengetahui situasi di sekitar kampusnya. Tak berlama-lama Mas Yudi segera membayar uang kos itu pada Ivan. Barang-barang Yuda yang ada di mobil segera diangkat ke dalam kamar. Cowok-cowok penghuni kos itu membantu mengangkati barang-barang Yuda ke kamar. Mas Yudi semakin senang dan yakin kos itu cocok buat Yuda karena melihat keramahan penghuni kos itu.

Bersambung . . . .